Anime

[AFA Review] Non Non Biyori Repeat

14insa 0 8,545

Ketika membuat review ini, saya teringat Goenawan Mohamad.

 

Dalam salah satu catatan pinggirnya, ia menulis tentang pelan dan waktu yang terus-menerus mengejar. Ia bercerita tentang pagi, tentang burung-burung yang cerewet. Sesuatu yang mungkin bertahan sebentar, karena jika kita kembali pada rutinitas, yang ada hanya kesibukan yang selalu sahut menyahut, berpacu dalam waktu.

 

Hal-hal yang tak mungkin ditemukan di anime ini.

 

Ya, anime ini bercerita tentang desa. Sebuah desa yang kecil, jauh dari perkotaan, tempat dimana sapi bisa berjalan dengan bebasnya bersama traktor di tengah jalan. Sebuah desa dimana hanya ada lima siswa yang datang untuk sekolah—karena memang tak ada lagi anak-anak berusia sekolah di sana. Dan di sana pula, menyewa sebuah film harus menempuh perjalanan hingga 10 stasiun. Lantas, apa yang ingin diharap dari sebuah desa, dimana anak-anaknya ketinggalan mode dan masih saja mendengar pemutar CD di zaman ini?

 

(Catatan: anime ini juga akan membahas prekuel sebelumnya, Non Non Biyori. Dan sebenarnya, yang membedakan kedua anime ini hanyalah lagu pembuka dan penutupnya saja. Hampir seluruh aspek yang lain benar-benar sama, sehingga sia-sia saja bila dibuat dua review yang terpisah).

 

 

Story

A rural story in rural area. Nothing more. Seriously.

 

Sebagaimana anime-anime slice of life lainnya, tak ada yang spesial dari Non Non Biyori Repeat. Sungguh. Jika Anda mengharapkan anime yang penuh dengan aksi yang wah, intrik yang menegangkan, atau sekadar “plot” murahan—yang ironisnya justru makin mudah dijumpai akhir-akhir ini—saya harus mengatakan bahwa Anda salah memilih anime. Anime ini hanya menceritakan keseharian empat anak perempuan yang tinggal di suatu desa yang terletak jauh dari kota. Tak lebih dan tak kurang, sebagaimana anime-anime slice of life lainnya.

 

Anime-anime slice of life yang berkembang saat ini selalu mengembangkan formula yang sama: beberapa anak yang berada dalam suatu kelompok dan melakukan hal-hal tertentu. Misalkan saja K-On! (kumpulan anak perempuan yang bermain musik) dan Free! (kumpulan anak lelaki yang berenang). Karena orang-orang tak akan menonton sesuatu yang akan kita lakukan tiap hari (bayangkan, apakah kita mau menonton orang yang sedang makan atau membaca buku?), produser menambahkan bumbu yang universal dan mampu diterima seluruh orang: komedi.

 

Memang, ada beberapa contoh yang ekstrem, seperti Clannad After Story dan Gakkou Gurashi, tetapi tak semua penulis mampu meramu hal-hal yang disajikan anime di atas menjadi sesuatu yang mampu diterima seluruh orang. Karena itu, komedi tetap menjadi hal utama yang harus ditemukan dalam anime-anime slice of life.

 

Lantas, apa yang membuat Non Non Biyori Repeat begitu spesial?

 

Kita mungkin bisa mengambil contoh lain, Danshi Koukousei no Nichijou. Jujur saja, anime ini berhasil membuat perut saya sakit karena tertawa terbahak-bahak saking kerasnya. Atau juga Gochuumon wa Usagi desu ka? dan Kiniro Mosaic, yang membuat semua orang yang menonton tersenyum sendiri karena melihat karakternya yang benar-benar imut. Semua itu tak akan ditemukan dalam Non Non Biyori Repeat. Alih-alih komedi gila-gilaan atau premis sederhana seperti cute girl doing cute thing, pengarangnya menawarkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang jarang dijumpai dalam anime-anime slice of life lain.

 

Benar, suasana tenang di sebuah pedesaan.

 

Jika menonton season pertama dari anime ini, 2-3 menit pertama hanya menayangkan potongan-potongan gambar alam pedesaan dan suara seruling yang dimainkan karakter utama dengan sumbang. Episode-episode selanjutnya malah berlangsung lebih lambat. Banyak transisi dari suatu cerita yang sengaja menayangkan potongan-potongan gambar tersebut untuk memperpanjang durasi tayang. Namun, hal inilah yang membuat Non Non Biyori Repeat menjadi menarik. Sangat menarik. Ditambah lagi, adegan-adegan yang ada disajikan dengan sangat realistis, sesuai dengan temanya di alam pedesaan yang tenang. Di sini, kita dapat melihat toko permen yang sepi pembeli, sapi yang berjalan di jalan raya, dan hamparan sawah yang luas. Saya bahkan tersenyum dengan nuansa nostalgia saat para karakter bermain dengan penggaris yang mereka bawa. Para generasi yang lahir di tahun 90-an pasti akan tersenyum sendiri saat mereka melihat para karakter bermain dengan beberapa bilah penggaris. Terkesan ketinggalan zaman memang, tetapi apa sih hal-hal modern yang kita harapkan dari sebuah desa? Sebuah traktor yang dikendalikan secara otomatis dengan remote control, mungkin…

 

Bermain dengan penggaris. Sepertinya, kepopuleran Assassin di seri Fate mulai merambah ke pelosok desa.

 

Secara umum, tak ada hal-hal spesial yang bisa didapat dari cerita random anak-anak perempuan yang tinggal di desa. Namun, jika Anda menginginkan suasana pedesaan yang menenangkan dan jauh dari hiruk-pikuk, maka selamat! Non Non Biyori Repeat mungkin akan jadi pilihan yang tepat untuk Anda.

 

 

Character

Nyanpasu!

 

Seorang teman pernah memberi tahu hubungan yang menarik antara Non Non Biyori Repeat dan Glasslip. Animasinya. P.A. Works tahu benar bagaimana memanjakan mata penonton dengan kualitas background-nya yang jauh di atas rata-rata studio lain. Hal yang sama juga dapat ditemukan pada Non Non Biyori Repeat. Namun, mengapa hanya satu yang bisa menjadi favorit banyak orang, sementara yang lain justru dianggap produk gagal dan menjadi anime terburuk musim tersebut?

 

Penamaannya aliran slice of life tentu bukan tanpa alasan. Salah satu prinsip mendasar dari genre tersbeut adalah harus mampu menampilkan kehidupan keseharian yang apa adanya. Tak dibuat-buat. Glasslip layak menyandang predikat the worst anime pada musim panas 2014 karena karakternya yang memang tak masuk akal, tak berkembang, dan sama sekali tak menggambarkan anak-anak seusianya di dunia nyata. Myanimelist.com bahkan menempatkan anime tersebut pada peringkat 6484, setara dengan anime-anime lain yang bahkan belum masuk jadwal tayang. Sementara, Non Non Biyori Repeat hanya menceritakan tentang empat anak perempuan yang ada di desa. Mereka datang ke sekolah, bermain di kelas saat guru tidak ada, dan berlindung di toko ketika hujan. Tak ada hal istimewa yang dilakukan para karakternya. Akan tetapi, hal-hal tersebut yang membuat Non Non Biyori Repeat menjadi spesial. Bagaimapun juga, kesederhanaan terkadang jadi formula yang terbaik, sebagaimana yang ditunjukkan oleh anime-anime Key sebelumnya.

 

Boleh minta satu?

 

Karakter pertama dalam anime ini adalah Ichijou Hotaru. Seorang anak perempuan kelas 5 SD yang pindah ke desa karena pekerjaan ayahnya. Karena selalu menghabiskan harinya di kota besar, lingkungan yang tenang di pedesaan merupakan hal baru baginya. Seluruh anime ini memang menceritakan bagaimana pengalaman Hotaru selama berada di desa dan menemukan hal-hal baru, seperti cangkang keong sawah, bermain dengan penggaris, hingga tersasar di gunung. Sekilas, Hotaru memang terlihat dan digambarkan seperti orang dewasa (seperti episode 2 musim sebelumnya), tetapi Atto tetap menggambarkannya dengan rasional, sebagaimana layaknya anak kelas 5 SD. Misalkan saja saat mereka berada di puncak bukit untuk melihat bintang pada malam hari dan lampu senter yang mereka bawa mati. Tak ada kisah sok pahlawan atau ide cemerlang darinya. Atto tahu betul apa yang akan dilakukan seorang anak perempuan kelas 5 SD dalam kondisi seperti itu: menangis.

 

Adik dan kakak. Jangan tanya mana yang kakak.

 

Selanjutnya adalah Koshigaya Komari dan Natsumi, kakak beradik yang juga menjadi karakter utama pada anime ini. Komari, sang kakak, memiliki postur yang pendek dan kekanak-kanakan dan sering sekali menjadi sasaran komedi. Sementara Natsumi—yang malasnya minta ampun—memiliki perawakan yang lebih dewasa dan tubuh yang lebih tinggi dibanding Komari. Karena lebih tinggi daripada sang kakak yang penakut, Natsumi terkadang selalu punya ide usil untuk menjahili Komari. Sebenarnya saya ingin membahas dua karakter ini secara terpisah, tetapi karena anime ini lebih fokus pada relasi antara mereka dibanding karakternya, jauh lebih menarik jika membahas mereka secara bersamaan. Lagipula, tak ada yang lebih menarik daripada menjahili seorang kakak yang pendek, penakut, dan kekanak-kanakan juga?

 

Tak tahu harus menulis apa. Terlalu epik.

 

Dan yang terakhir, tentu saja. Nyanpasu! Sentra kekuatan utama dari anime ini. Miyauchi Renge, anak perempuan kelas 1 SD yang bertingkah seperti anak kegedean. Sebenarnya, cukup sulit untuk menggambarkan Renge dengan kata-kata. Maksudnya, apa sih yang Anda harapkan dari seorang anak kelas 1 SD? Perilaku yang kekanak-kanakan? Tentu saja ada. Rasa ingin tahu yang besar? Pasti. Dan hal yang patut diacungi jempol, karakter apa adanya dari Renge inilah yang membuatnya menjadi magically enchanting, pesona yang menyihir. Memang, ada karakter anime lain yang mirip atau seusia dengan Renge, seperti Illya (Fate series) dan Shiro (No Game No Life), tetapi Renge berada pada level yang berbeda. Tak ada hal-hal aneh yang bisa memancing reaksi berlebihan dari penonton. Renge tetaplah seorang Renge, anak kelas 1 SD yang asyik pada dunianya sendiri. Dan tingkah polosnya itulah yang membuatnya unik, benar-benar berbeda dari karakter yang lain.

 

Sebenarnya masih banyak karakter yang lain, seperti guru mereka, Kazuho (sebenarnya juga kakaknya Renge). Saya hanya tertawa melihat karakternya yang benar-benar tak tahu malu dan seakan tanpa dosa ketika ia terlambat masuk kelas (bayangkan, jam 12 siang!) atau tidur saat jam pelajaran. Juga Sugaya, kakak dari Komari dan Natsumi yang tak pernah bicara sama sekali tetapi selalu membuat orang tertawa dengan tingkah lakunya. Namun, yang paling berkesan adalah Kagayama Kaede, pemilik toko permen yang selalu dipanggil dagashi-ya (candy lady) oleh Natsumi dan teman-temannya. Di musim ini memang belum ada momen spesial yang melibatkan Kaede, tetapi musim pertama (terutama episode 10) dapat menjadi referensi mengapa karakter ini menjadi salah satu karakter pendukung yang benar-benar akan diingat oleh semua orang.

 

 

Animation

Some people call it scenery porn. Come on, don’t give such misleading name for this show…

 

Hampir tak ada yang spesial dari animasi Non Non Biyori Repeat. Karakter memang digambarkan dengan baik dan rapi, tetapi itu saja. Memang, jika diperhatikan dengan jeli, kualitas gambar Non Non Biyori Repeat sedikit lebih baik dibanding musim pertamanya, tetapi bagi sebagian besar orang mungkin sulit menemukan perbedaannya. Dan sekali lagi, jangan bayangkan gerakan detail dan super halus ala Shingeki no Kyoujin atau Kara no Kyoukai. Tidak, Silver Link tidak mendapatkan Unlimited Budget Works sebagaimana garapan ufotable yang booming musim sebelumnya.

 

Walaupun demikian, jika dilihat lebih baik, pihak produser memang memberikan perhatian khusus pada karakternya. Mungkin Komari dan Natsumi selalu memakai pakaian seragam mereka saat di sekolah, juga Renge dan Hotaru yang memakai seragam olahraga saat ada kegiatan yang memerlukan aktivitas fisik di sekolah. Namun, di luar itu, seluruh pakaian yang mereka kenakan berbeda tiap episodenya. Jarang sekali ada pengarang yang rela menghabiskan waktunya hanya untuk mengotak-atik pakaian yang terkadang menjadi ciri khas karakternya. Contoh mudahnya, bayangkan Naruto mengganti baju orangenya dengan seragam ninja kebanyakan atau Luffy mengganti baju merahnya dengan warna lain. Mungkin Eiichiro Oda memang memberi perhatian khusus pada Nami yang sering mengganti kostumnya, tetapi pengarang lain? Mungkin hanya bisa dihitung dengan jari.

 

Satu hal yang membuat anime ini benar-benar berbeda dengan anime lain adalah kesungguhan studio animasinya untuk membuat gambar latarnya. Produser benar-benar tahu bahwa alam itu diciptakan untuk dilihat dan dinikmati, bukan diceritakan. Karena itu, banyak sekali adegan yang tak dipenuhi dengan dialog sebagaimana anime-anime slice of life lainnya. Sebagai gantinya, kita akan disuguhi oleh hamparan hijau yang terbentang sejauh mata memandang.

 

Detail yang indah dari sebuah pemandangan alam.

 

Satu hal lain yang menjadi nilai plus adalah detail yang disajikan. Walaupun alam pedesaan selalu didominasi dengan warna hijau, Silver Link benar-benar memperhatikan bagaimana gradasi warnanya seiring kejauhan dari obyek tersebut. Pada gambar di atas, gunung yang lebih jauh digambarkan dengan warna yang sedikit lebih biru dibanding gunung yang dekat. Warna hijau menjadi lebih kontras pada obyek yang dekat, seperti dedaunan pohon di sebelah kiri. Karena keterbatasan dana, detail-detail minor seperti sawah tak bisa digambarkan dengan lebih detail, tetapi bagi saya itu bukan masalah besar. Sebagai gantinya, efek suara yang benar-benar realistis akan menemani penonton menyaksikan pemandangan tersebut, seperti suara kecipak air, cicada yang berisik, atau angin yang berhembus semilir. Suatu pengalaman menonton anime yang mungkin sangat sulit untuk dilupakan.

 

 

Music

“This is where you can find
The gentlest "Welcome back" in the world…”

 

Salah satu kesulitan paling besar yang dihadapi tiap komposer musik adalah membuat setiap potongan musiknya dapat diingat dengan mudah oleh para pendengarnya. Bahkan, seorang Yuki Kajiura sekalipun mengatakan hal tersebut sulit sekali dilakukan. Contoh gampangnya, kita mungkin denngan mudah dapat mengingat musik chorus yang dimainkan saat Shiki atau Kirito bertarung—terlepas dari adegan bertarungnya yang pasti digambarkan dengan sangat menarik—tetapi tidak saat adegan mereka berbicara di tengah jalan atau di dalam kafe, misalnya. Karena itu, dalam anime slice of life yang bahkan tak ada adegan menarik untuk disaksikan (selain potongan dialog), Hiromi Mizutani berhasil menunaikan tugasnya dengan baik. Sungguh baik.

 

Jika pernah menonton Kamisama no Inai Nichiyoubi, Anda pasti tahu bagaimana komposisi musik yang dibuatnya. Sebuah musik yang kental dengan suara orgel, flute, synthetizer, dan biola. Beberapa musik hanya dimainkan dengan lantunan solo piano klasik. Jika ciri khas Yuki Kajiura adalah irama chorus yang selalu membuatnya terngiang-ngiang dalam ingatan (silahkan cek Mezame atau M12+13), ciri khas Hiromi Mizutani adalah irama flute dan solo piano yang lembut dan menenangkan. Pada musim pertama, soundtrack “Mata Ashita” (Non Non Biyori Original Soundtrack CD2 tracklist no. 7) berhasil membuat playlist iTunes saya memutarnya berkali-kali berkat paduan suara gitar, biola, dan flute yang harmonis. Saya tak tahu bagaimana Mizutani melanjutkan komposisinya di musim kedua, mengingat ada beberapa potongan musik yang belum pernah saya dengar di musim pertama tetapi sangat nyaman didengar. Yang jelas, pengalaman menonton alam pedesaan yang tenang akan sangat dimanjakan oleh musik-musik yang mengalun indah di telinga Anda.

 

Sejujurnya, saya sedikit kecewa dengan nano.RIPE. Musisi yang sebelumnya juga dipercaya untuk menyanyikan lagi pembuka Non Non Biyori meninggalkan irama musik pedesaan khas Jepang di musim pertama dan menggantinya dengan irama country khas Amerika (bisa dibandingkan antara intro pembuka lagu Nanairo Biyori dan Kodama Kotodama). Bukan berarti saya menganggap bahwa musik country dan Amerika lebih jelek. Tidak, tetapi bayangkan jika anda sedang berada di Kota Padang tetapi memesan Coto Makassar atau Soto Banjar. Terkesan aneh, bukan?

 

Saya tak akan berkata apa-apa lagi dan akan langsung mengacungkan dua jempol untuk lagu penutupnya, Okaeri. Ada kesan nostalgia tersendiri di sini. Keempat pengisi suara dari anak perempuan tersebut menyanyikan sebuah lagu dengan arti yang sangat dalam. Mungkin terkesan hiperbolis, tetapi lagu penutupnya dapat menggambarkan anime ini secara keseluruhan. Bukankah Asahigaoka, desa tempat mereka tinggal, memang memberikan salam “selamat pagi” yang paling indah?

 

Memang, banyak anime-anime yang memliki lagu penutup yang bagus, seperti Gakkou Gurashi, atau Charlotte, tetapi jika melihat konteks animenya secara keseluruhan, mungkin lagu penutup ini adalah lagu penutup terbaik pada anime-anime musim ini.

 

Trivia: pada menit 3:27 lagu penutupnya, jika Anda masih mengingat dengan baik musim pertama anime ini, mungkin Anda akan tersenyum-senyum sendiri.

 

 

Enjoyment

Do we really need an explanation for this section?

 

Hayao Miyazaki pernah melontarkan kritik pedasnya pada industri anime yang dianggapnya sedang sakit. Menurutnya, industri ini bermasalah karena anime penuh dengan otaku. “Anda tahu, hampir semua anime Jepang diproduksi tanpa dasar mengamati manusia nyata. Diproduksi oleh manusia yang tidak tahan melihat manusia lain,” katanya saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi di Jepang.

 

Saya sendiri sebenarnya tak ingin mengamini ini, tetapi kenyataan di lapangan memang tak bisa berbicara banyak. Setiap musim, selalu saja ada anime dengan genre ecchi tanpa alur cerita yang jelas (Bikini Warrior musim panas ini, Triage X pada musim semi, dan Isuca pada musim dingin yang lalu). Karena kaidah ekonomi dasar, tak ada produser yang ingin anime garapannya tak laku dan mencapai target penjualan. Namun beberapa produser sepertinya seolah kehilangan akal sehat dengan membuat sebuah anime bernilai rendah yang hanya memperlihatkan obyek sensualitas semata. Dan kita sama-sama tahu bagaimana nasib anime itu kedepannya: dicemooh para fans dan penjualannya jeblok.

 

Mungkin, atas dasar itulah, anime ini meraih rating yang benar-benar positif di negara asalnya. Lebih dari 90% penonton di Jepang menyatakan puas setiap kali menonton Non Non Biyori di musim pertamanya. Bahkan, anime ini juga mengalahkan Shingeki no Kyoujin pada sebuah polling yang diadakan stasiun televisi AT-X tahun 2013. Di situs 2ch, anime ini memang menduduki peringkat nomor dua (dan Shingeki no Kyoujin meraih peringkat pertama secara ironis), mengalahkan Oregairu, seri Monogatari, bahkan Love Live sekalipun. Di situs myanimelist.com, para reviewer rata-rata memandang anime ini dengan nuansa yang positif, tanpa adanya perdebatan serius seperti halnya Sword Art Online atau Clannad After Story sekalipun. Bagi mereka (dan juga saya), kehadiran Non Non Biyori (juga Non Non Biyori Repeat) sepertinya menjadi sebuah angin segar, oasis di tengah industri anime yang terkesan monoton tanpa sesuatu yang baru.

 

 

Overall

Story: 8/10 (cerita pedesaan khas slice of life yang digambarkan dengan realistis)
Character: 8.5/10 (karakter yang unik dengan kehadiran Renge sebagai daya tarik)
Animation: 9/10 (desain yang mengagumkan untuk sebuah background)
Music: 9/10 (soundtrack dan lagu penutup merupakan salah satu yang terbaik di musim ini)
Enjoyment: 10/10 (mungkin subyektif, tapi merupakan salah satu anime terbaik yang pernah ditonton)
Overall rating: A (skala A+ hingga F)

 

Jakarta, 20 September 2015

Arief Kurniawan

Author

Lv.2 14insa  Bayi
1,200 (13.3%)

You have no registered signature.


Comments

Number Classification Subject Author Date Views Like
20 Review Parodi OP Anime Danshi Koukousei no Nichijou dino 08.26 2189 0
19 Review Anime Misteri Terbaik, Hyouka - Slice of life school detective usagi 08.09 4236 0
18 Review Review Tonari No Kaibutsu-kun (My little monster) usagi 08.04 3199 0
17 Review one piece episode 746 yuma 06.19 3844 1
16 Review ANIME WINTER 2016!! Comment1Post saff 01.11 3930 4
15 Review Yosuga no Sora ( ヨスガノソラ) Comment2Post umrgun 11.10 18802 4
14 Review [AFA Review] Rokka no Yuusha meggy 09.20 6997 1
13 Review [AFA REVIEW] Shimoneta: A Boring World Where the Concept of Dirty Jokes Doesn’t Exist Comment2Post piyo 09.20 6961 2
Reading Review [AFA Review] Non Non Biyori Repeat 14insa 09.20 8546 1
11 Review Silver Spoon / Gin no Saji runi 09.19 6806 1
10 Review [AFA Review] Sword Art Online Comment2Post Stay 09.19 6113 2
9 Review [AFA Review] Plastic Memories Comment21Post sierrin 09.18 5640 23
8 Review [AFA Review] Shigatsu wa Kimi no Uso Comment2Post tony 09.18 6352 1
7 Review [AFA Review] SHOKUGEKI NO SOUMA Luthfi 09.18 6306 1
6 Review [AFA Review] SKET Dance Comment10Post Tocchi 09.17 7686 6
5 Review AFA REVIEW SLAMDUNK teddyws 09.17 5867 1
4 Review [AFA Review] Assasination Classroom Comment1Post Kyna 09.17 5188 4
3 Review [AFA Review] Sakurasou no Pet na Kanojoo Comment35Post Setiyawan 09.17 9352 34
2 Review [AFA Review] Saint Seiya: Soul of Gold Comment1Post robotking 09.16 7905 8
1 Review [AFA Review] Date A Live Movie: Mayuri Judgement Comment10Post Gina 09.16 8626 11
Rank di Anime (133)
  • No Article.
  • October 2019
Category
Acara
  • No Article.
  • No Article.
Recent Statistic
Share to Facebook Share to Twitter Share to Google+